×
Blog
Back

Sejarah dan Perjuangan Indonesia yang Tersimpan di Museum Sumpah Pemuda

  • admin_dwidaya
  • 2018-10-28 16:24:32
  • 101 time(s)
Tag(s):

Keberadaan museum sangat penting sebagai pengingat mengenai kisah, tragedi, serta sejarah yang terjadi di masa lampau. Indonesia pun memiliki banyak museum yang menawarkan bukti sejarah dan perjuangan Indonesia, Museum Sumpah Pemuda adalah salah satunya. Meseum yang lahir berkat perjuangan para pahlawan serta pemuda Indonesia dalam menciptakan ikrar Sumpah Pemuda ini menyimpan banyak koleksi sejarah yang wajib kamu telusuri. Yuk, kenali sejarah dan perjuangan Indonesia di Museum Sumpah Pemuda dengan menyimak informasi berikut ini!

Sejarah Museum Sumpah Pemuda

Awalnya, Museum Sumpah Pemuda merupakan sebuah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung yang didirikan pada permulaan abad ke-20 ini sejak tahun 1908 dikenal pula dengan nama Gedung Kramat 106. Gedung ini disewa oleh pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RHS (Rechts Hooge School) sebagai tempat tinggal dan belajar. Kala itu dikenal dengan nama Commensalen Huis.  Selain pernah disewa oleh pelajar Stovia, Museum Sumpah Pemuda juga pernah ditinggali oleh beberapa mahasiswa.

Mahasiswa yang juga sekaligus pemuda dan pejuang Indonesia yang pernah menempati gedung ini adalah Muhammad Yamin, Amir Syarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Soekarno, hingga Roesmali. Selanjutnya, sejak tahun 1927, Gedung Kramat 106 digunakan oleh sejumlah organisasi pergerakan pemuda untuk melangsungkan pergerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sejumlah tokoh penting kemerdekaan Indonesia seperti Bung Karno serta tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering hadir di Gedung Kramat 106 untuk membahas tentang format perjuangan dengan para penghuni gedung tersebut. Di sini juga pernah diadakan kongres Pemuda Indonesia, Sekar Roekoen, hingga PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia). Gedung ini juga dimanfaatkan sebagai ruang sekretariat oleh PPPI dan majalah Indonesia Raja.

https://www.pexels.com/photo/black-and-white-art-museum-europe-21264/

Kegunaan Museum Sumpah Pemuda

Dulu, Museum Sumpah Pemuda sering digunakan oleh berbagai organisasi pemuda. Karena itu, sejak tahun 1927 gedung yang awalnya bernama Langen Siswo ini dikenal dengan nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw yang berarti Gedung Pertemuan. Pada 15 Agustus 1928, gedung ini ditetapkan sebagai tempat diselenggarakannya Kongres Pemuda II yang berlangsung pada Oktober 1928. Kala itu, Soegondo Djojopoespito sebagai Ketua PPPI terpilih menjadi ketua kongres tersebut.

Setelah sebelumnya pada Kongres Pemuda I telah dibahas dan berhasil diselesaikan perihal perbedaan-perbedaan kedaerahan dan terciptanya persatuan bangsa Indonesia, pada Kongres Pemuda II dilakukan pembahasan untuk menghasilkan keputusan yang lebih besar. Keputusan tersebut kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda yang menjadi salah satu momen bersejarah perjuangan Indonesia.

Di gedung ini, para pemuda Indonesia mengesampingkan ego kedaerahan yang dimilikinya untuk berikrar mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia. Setelah peristiwa Sumpah Pemuda berlangsung, banyak penghuni meninggalkan gedung ini karena telah selesai belajar. Setelah pelajar tidak melanjutkan sewanya pada tahun 1934, Gedung Kramat 106 kemudian disewa Pang Tjem Jam selama tahun 1934 – 1937. Pang Tjem Jam pun memanfaatkan gedung ini sebagai tempat tinggal sebelum pada tahun 1937 – 1951 gedung ini disewa oleh Loh Jing Tjoe sebagai toko bunga (1937 – 1948).

Perubahan fungsi gedung menjadi museum

Setelah berbagai perubahan yang terjadi, gedung ini berubah fungsi menjadi Hotel Hersia pada tahun 1948 – 1951. Pada tahun 1951 – 1970, Inpektorat Bea dan Cukai menyewa gedung ini sebagai lokasi perkantoran dan penampungan karyawan. Kemudian, pada tanggal 3 April 1973, gedung ini dipugar oleh Pemda DKI Jakarta dan selesai pada 20 Mei 1973. Gedung Kramat 106 kemudian dijadikan museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda hingga saat ini. Peresmian Gedung Sumpah Pemuda sendiri dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973. Presiden ke-2 RI, Soeharto, kemudian kembali meresmikan gedung ini pada 20 Mei 1974.

 

Nah, itulah sejarah serta perjuangan Indonesia, terutama pemuda Indonesia di Gedung Sumpah Pemuda. Berbagai sejarah dan pergerakan perjuangan tersebut terangkum dengan detail di museum yang menyimpan banyak cerita ini. Untuk kamu yang suka cerita sejarah Indonesia atau sekadar ingin mengetahui lebih banyak tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, bisa langsung berkunjung ke gedung yang berada di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat ini!